Di sini saya Agung Dwi Nugroho akan menjelaskan Teknik Pembibitan Kelapa Sawit:
I. PENDAHULUAN
1.1. Kelapa Sawit
Kelapa sawit adalah tanaman komoditas utama perkebunan
Indonesia, di- karenakan nilai ekonomi yang tinggi dan kelapa sawit
merupakan tanaman penghasil minyak nabati terbanyak diantara tanaman
penghasil minyak nabati yang lainnya (kedelai, zaitun, kelapa, dan bunga
matahari). Kelapa sawit dapat menghasilkan minyak nabati sebanyak 6
ton/ha, sedangkan tanaman yang lainnya hanya menghasilkan minyak nabati
sebanyak 4-4,5 ton/ha.
Para ahli telah membuat satu bagan yang menggambarkan multi guna kelapa
sawit dengam membuat “pohon industri kelapa sawit,” berdasarkan bagan
industri dari produk hulu kelapa sawit dapat menghasilkan jenis-jenis
produk sebagai berikut ; 1) Minyak sawit (CPO) yang menghasilkan
carotene, tocopherol, olein, stearin, soap stok, dan free fatty acid, ;
2) Inti sawit menghasilkan minyak pati dan bungkil, ; 3) Tempurung
menghasilkan arang dan bahan baku, ; 4) Serat menghasilkan bahan bakar
dan sumber selulosa, ; 5) Tandan kosong digunakan sebagai sumber
selulosa dan pupuk kompos, ; 6) Sludge digunakan sebagai komponen
makanan ternak.
Menurut darjito (2013), benih unggul yang dihasilkan dari tahapan pemuliaan
memiliki beberapa kelas yaitu: Benih Penjenis (breeder seed), adalah
material pembiak vegetatif yang dihasilkan langsung oleh peneliti. Benih
ini digunakan sebagai benih dasar, Benih Dasar (foundation seed),
adalah hasil turunan pertama dari benih penjenis. Identitas genetik
maupun kemurniannya dijaga baik. Benih ini merupakan sumber dari semua
benih sebar, dan yang teakhir adalah Benih Sebar, yaitu benih turunan
dari benih dasar dan benih pokok yang langsung digunakan petani untuk
dibudidayakan, untuk menghasilkan benih yang bersertifikat atau benih
sebar yang terjamin mutunya, baik genetik maupun kemurniannya,
pemerintah telah menentukan ketentuan pokok Benih sebar varietas
tertentu selanjutnya akan digunakan sebagai bibit.
Prenursery merupakan tahapan pertama sebelum main nursery.
Pada tahap ini dilakukan dua tahap yaitu seleksi pertama dan seleksi
kedua. Seleksi pertama dilakukan saat tanaman kelapa sawit berumur 2-4
minggu setelah tanam. Tanam seleksi yang kedua dilakukan saat tanaman
kelapa sawit sesaat sebelum dipindahkan ke largebag (Tahap Main Nursery)
yaitu pada umur 3-3,5 bulan. Pada tahap ini tanaman kelapa sawit yang
abnormal, mati/rusak saat perngangkutan dan kelainan genetik harus
dimusnahkan.
1.2. Tujuan Praktek Lapang
Adapun tujuan pelaksanaan Praktek Lapang ini antara lain:
a. Menggambarkan sistem pembibitan kelapa sawit prenursery dan main nursery.
b. Mempelajari perawatan bibit kelapa sawit.
1.3. Manfaat Praktek Lapang
Adapun manfaat praktek lapang antara lain:
a. Sebagai pengalaman mengikuti sistem pembibitan kelapa sawit
b. Mengetahui jenis kelapa sawit yang mempunyai kualitas tinggi.
c. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian dan Peternakan
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Botani Kelapa Sawit
2.1.1. Kecambah
Kelapa sawit berkembang biak dengan bijji dan akan
berkecambah untuk selanjutnya tumbuh menjadi tanaman. Susunan buah
kelapa sawit dari lapisan luar sebagai berikut : 1) Kulit buah yang
licin dan keras (epicarp). 2) Daging buah (mesocarp) terdiri atas
susunan serabut (fibre) dan mengandung minyak. 3) Kulit biji
(cangkang/tempurung), berwarna hitam dan keras (endocarp). 4) Daging
biji (mesoperm), berwarna putih dan mengandung minyak. 5) Lembaga
(embrio). Lembaga yang keluar dari kulit biji akan berkembang ke dua
arah : 1) Arah tegak lurus ke atas (fototrophy), disebut plumula yang
selanjutnya akan menjadi batang dan daun kelapa sawit. 2) Arah tegak
lurus ke bawah (geotrophy), disebut radikula yang selanjutnya akan
menjadi akar (Sunarko, 2009).
Plumula akan muncul setelah radikula tumbuh sekitar satu
sentimeter. Akar-akar adventif pertama muncul di sebuah ring di atas
sambungan radikula-hipokotil, kemudian membentuk akar-akar sekunder
sebelum daun pertama muncul. Bibit kelapa sawit memerlukan waktu tiga
bulan untuk berubah menjadi organisme yang mampu memfotosintesis dan
mengabsorpsi makanan dari dalam tanah secara sempurna.
2.1.2. Akar
Kelapa sawit merupakan tumbuhan monokotil. Artinya, tanaman
dari family Araceae ini memiliki akar serabut. Radikula pada bibit
tumbuh memanjang ke bawah selama enam bulan hingga mencapai 15 cm dan
menjadi akar primer. Akar ini akan terus berkembang. Akar serabut primer
yang tumbuh secara vertikal dan horizontal di dalam tanah. Akar ini
akan bercabang menjadi akar sekunder. Selanjutnya, akar sekunder
berkembang dan bercabang kembali menjadi akar tersier, begitu
seterusnya. Akar serabut kelapa sawit tumbuh di seluruh pangkal batang
hingga 50 cm di atas permukaan tanah. Akar ini terdiri dari atas akar
primer, sekunder, tersier, hingga quarter yang biasa disebut akan feeder
roots.
Jika dirawat dengan baik, perkembangan akar akan membantu
pertumbuhan tanaman dan meningkatkan produksi kelapa sawit. Perakaran
yang kuat lebih tahan terhadap penyakit pangkal batang dan kekeringan.
Perakaran tanaman kelapa sawit dapat mencapai kedalaman 8 m dan 16 m
secara horizontal. Pemeliharaan akar akan meningkatkan absorpsi tanaman
terhadap unsur hara oleh tanaman melalui akar.
2.1.3. Batang dan Daun
Kelapa sawit memiliki batang yang tidak bercabang. Pada
pertumbuhan awal setelah fase muda (seedling), terjadi pembentukan
batang yang melebar tanpa terjadi pemanjangan internodia. Titik tumbuh
terletak di pucuk batang dan terbenam di dalam tajuk daun. Bentuknya
seperti kubis dan enak dimakan. Di batang terdapat pangkal
pelepah-pelepah daun yang melekat dan sukar terlepas, meskipun daun
telah kering dan mati. Pada tanaman tua, pangkal-pangkal pelepah yang
masih tertinggal di batang akan terkelupas, sehingga batang kelapa sawit
tampak berwarna hitam beruas.
Kelapa sawit memiliki daun yang menyerupai bulu burung atau
ayam. Di bagian pangkal pelepah daun terbentuk dua baris duri yang
sangat tajam dan keras di kedua sisinya. Anak-anak daun tersusun
berbaris dua hingga ujung daun. Di tengah-tengah setiap anak daun
terbentuk lidi sebagai tulang daun. Ujung pelapah daun sering tumbuh
menyerupai buntut benang yang mencirikan kekurangan unsur boron. Ciri
lainnya, ujung daun membentuk seperti ujung tombak. Boron merupakan
unsur hara yang ada di dalam tanah, tetapi kadang jumlahnya tidak cukup
untuk kebutuhan tanaman sehinggan perlu ditambah melalui pemupukan.
2.1.4. Bunga dan Buah
Kelapa sawit yang berumur tiga tahun sudah mulai dewasa dan
mengeluarkan bunga jantan dan betina. Bunga tersebut keluar dari ketiak
atau pangkal pelepah daun bagian dalam. Bunga jantan terbentuk lonjong
memanjang, sedangkan bunga betina agak bulat. Kelapa sawit mengadakan
penyerbukan bersilang (croos pollination). Artinya, bunga betina dari
pohon yang satu dibuahi oleh bunga jantan dari pohon yang lainnya dengan
perantaraan angin dan serangga penyerbuk.
Perbandingan bunga betina dan bunga jantan sangat
dipengaruhi oleh pupuk dan air. Jika tanaman kekurangan pupuk atau
kekurangan air, bunga jantan akan lebih banyak keluar. Produktivitas
tanaman menjadi baik jika unsur hara dan air tersedia dalam jumlah yang
cukup dan seimbang. Kecukupan unsur hara dan air didasarkan pada
analisis tanah, air, dan daun sesuai dengan umur tanaman. Sex ratio
mulai terbentuk 24 bulan sebelum panen. Artinya, calon bunga
(primordial) telah terbentuk dua tahun sebelum panen. Karena itu,
perencanaan produksi dihitung minimal tiga tahun sebelumnya, sehingga
perencanaan pemupukan dapat dijadwalkan .
Buah muda berwarna hijau pucat. Semakin tua berubah menjadi
hijau hitam hingga kuning. Buah sawit yang masih mentah berwarna hitam
(nigrescens), beberapa diantaranya berwarna hijau . Sementara
itu, buah matang berwarna merah kuning (oranye). Selanjutnya, buah
matang akan rontok (buah leles atau brondol). Keadaan ini menandakan
bahwa kelapa sawit sudah layak panen. Biasanya perintah panen diberikan
berdasarkan jumlah jatuhnya brondolan, yakni 1-2 buah per kg tandan.
2.2. Jenis Kelapa Sawit
Berdasarkan ketebalan cangkang dan daging buah, kelapa sawit
dibedakan menjadi beberapa jenis sebagai berikut : ) Dura, memiliki
cangkang tebal (3-5 mm), daging buah tipis, dan rendemen minyak 15-17 %,
2) Tenera, memiliki cangkang agak tipis (2-3 mm), daging buah tebal,
dan rendemen minyak 21-23%, 3) Pesifera, memiliki cangkang sangat tipis,
daging buah tebal, biji kecil dan rendemen minyak tinggi 23-25%, tandan
buah hampir selalu gugur sebelum masak, sehingga jumlah minyak yang
dihasilkan sedikit.
2.3. Klasifikasi Kelapa Sawit
Menurut Pahan (2009), Kelapa sawit diklasifikasikan sebagai
berikut: Divisi: Embryophita Siphonagama, Kelas: Angiospermae, Ordo:
Monocotyledonae, Famili: Arecaceae, Subfamily: Cocoideae, Genus:
Elaesis, Species: 1. E.guineensis Jacq, 2. E.oleifera, 3. E.odora.
(Pahan, 2009)
2.4. Pembibitan
Pembibitan dapat dilakukan dengan satu tahap atau dua tahap
pekerjaan. Pembibitan satu tahap berarti kecambah kelapa sawit langsung
ditanam di polibag besar atau langsung di pembibitan utama (main
nursery). Pebibitan dua tahap artinya penanaman kecambah dilakukan di
pembibitan awal (prenursery) terlebih dahulu menggunakan polibag kecil
serta naungan, kemudian dipindahkan ke main nursery ketika berumur 3-4
bulan menggunakan polibag yang lebih besar (Dalimunthe, 2009).
Pembibitan dua tahap (double stage) lebih banyak digunakan
dan memiliki keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan pembibitan
satu tahap. Jika menggunakan pembibitan dua tahap, luasan pembibitan
menjadi lebih kecil dan memungkinkan untuk dibuat naungan. Keuntungan
lainnya, penyiraman menjadi mudah, jadwal pemupukan menjadi mudah, dan
bibit terhindar dari penyinaran matahari secara langsung sehingga risiko
kematian tanaman menjadi kecil. Jika menggunakan pembibitan satu tahap
(langsung menggunakan polibag besar), luas areal yang dibutuhkan cukup
besar dan penggunaan naungan tidak efektif. Selain itu, proses
penyiraman dan pengawasan menjadi lebih sulit karena tidak semua tanaman
dapat dipantau.
2.4.1. Pembibitan Awal
Pembibitan awal merupakan tempat kecambah
kelapa sawit ditanam dan dipelihara hingga berumur tiga bulan.
Selanjutnya, bibit tersebut dilakukan selama 2-3 bulan, sedangkan
pembibitan main nursery selama 10-12 bulan. Bibit akan siap tanam pada
umur 12-14 bulan (3 bulan di prenursery dan 9-11 bula. di main nursery).
A. Persyaratan Lokasi
Lokasi untuk pembibitan awal sebaiknya datar atau kemiringan
tanah 30 sehingga pembuatan bedengan prenursery nantinya akan rata.
Bagian atas bedengan sebaiknya memiliki naungan, berupa atap buatan atau
pohon. Pagar prenursery untuk mencegah hewan pengganggu masuk dan
merusak pembibitan. Lokasi sebaiknya dekat dengan sumber air. Kondisi
debit air harus tetap dan tidak mengandung kapur (pH netral). Lokasi
harus dekat sumber media dengan topsoil yang cukup untuk mengisi babybag
(polibag kecil), tanah tidak bercadas atau tidak berkapur, dan akses
jalan yang mudah dijangka.
B. Pemesanan Kecambah
Seleksi dilakukan dengan memilih penggunaan kecambah yang baik dan dapat
mencukupi kebutuhan. Satu hektar lahan tanaman dengan populasi 143
pohon membutuhkan kecambah 220 biji dengan asumsi kecambah yang mati dan
abnormal sekitar 25% untuk kebutuhan penyulaman sekitar 10%. Waktu
pemesanan kecambah diatur agar kecambah sudah tertanam di babybag
prenursery 13-14 bulan sebelum penanaman di lapangan.
Polibag kecil yang digunakan sebaiknya berwarna hitam, jika terpaksa
bisa menggunakan polibag kecil berwarna putih. Polibag berukuran panjang
14 cm, lebar 8 cm, dan tebal 0,14 cm. Selain itu, bisa juga menggunakan
babybag hitam dengan ukuran14 x 22 x 0,07 cm (200 lembar/kg) media
tanam yang digunakan berupa campuran topsoil dan kompos dengan
perbandingan 6:1 atau campuran pasir, pupuk kandang, dan topsoil dengan
komposisi 1:1:3. Bedengan pembibitan prenursery dibuat dengan panjang
10 meter dan lebar 1,2 meter. Tinggi bedengan berkisar 0,1-0,15 meter
dengan jarak antar bedengan 0,8 meter. Satu petak prenursery tanki siram
1.000 liter dapat mencukupi penyiraman 700-800 babybag kecambah.
C. Penanaman Kecambah
Letakkan kecambah di tempat yang teduh, kemudian segera
tanam ke dalam baybag. Kecambah hanya dapat bertahan 3-5 hari di tempat
penghasil kecambah. Dua hari menjelang penanaman kecambah, media tanam
yang berada di dalam babybag harus disiram setiap pagi. Gemburkan
permukaan media dengan jari telunjuk atau dengan ibu jari, kemudian buat
lubang untuk meletakkan kecambah. Masukkan kecambah sedalam 1,5-2 cm di
bawah permukaan tanah, lalu ratakan kembali hingga menutup kecambah
tersebut. Bagian bakal akar (radikula) yang berbentuk agak tumpul dan
berwarna lebih kuning harus mengarah ke bawah dan bakal daun (plumula)
yang bentuknya agak tajam dan berwarna kuning muda mengarah ke atas.
D. Naungan
Naungan atau pelindung bisa berupa pohon hidup atau naungan
buatan yang terbuat dari daun kelapa sawit. Ukuran tingggi tiang dua
meter (depan belakang sama) dan jarak antar tiang tiga meter. Naungan
dipertahankan hingga kecambah berdaun 2-3 helai. Setelah itu, naungan
berangsur-angsur dikurangi dari arah timur agar sinar matahari pagi bisa
lebih banyak masuk ke bedengan. Pengurangan naungan dilakukan secara
bertahap dan jangan semapai terlambat karena dapat mengahambat
pertumbuhan tanaman. Sebaliknya, jika pengurangan terlalu cepat maka
akan menyebabkan tanaman stress. Pengurangan naungan dilakukan setelah
bibit berumur 6 minggu.
E. Penyiraman dan penyiangan
Penyiraman dilakukan setiap hari secara teratur, yakni pada pagi hari
saat pukul 06.00-10.30 dan sore hari dimulai pukul 15.00. Volume air
yang disiramkan sekitar 0,25-0,5 liter per bibit. Penyiangan dilakukan
dengan mencabut rumput-rumput yang tumbuh di babybag menggunakan tangan.
Penyiangan sebaiknya dilaksanakan dua minggu sekali. Rumput dikumpulkan
di antara bedengan agar kering terkena sinar matahari.
F. Pemupukan
Selama tiga bulan di prenursery biasanya bibit tidak dipupuk. Namun,
jika tampak gejala kekurangan hara dengan gejala seperti daun menguning,
bibit perlu dipupuk menggunakan pupk N dalam bentuk cair. Konsentrasi
pupuk urea atau pupuk majemuk sekitar 0,2% atau 2 gram per liter air
untuk 100 bibit. Pupuk diaplikasikan melalui daun dengan cara disemprot
pada bibit berumur lebih dari satu bulan atau telah memiliki tiga helai
daun. Frekuensi pemupukan dilakukan seminggu sekali.
Selamat mencoba,,,!!!"hehe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar